Sunday, August 11, 2013

Papua: Konspirasi Antara John F. Kennedy, Sukarno, Suharto dan Freeport

Pada akhir tahun 1996 lalu, sebuah artikel yang ditulis oleh seorang penulis Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport“.

Walau dominasi Freeport atas “gunung emas” di Papua telah dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini ternyata sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya.

Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun pada tahun 1959.

Lisa-PeaseSaat itu di Kuba, Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan.

Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya dari Kuba, akhirnya terkena imbasnya. Maka terjadi ketegangan di Kuba.

Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.
Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen.

Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jacques Dozy di tahun 1936.

Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda.

Namun, Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan kemudian membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah.
Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah.

Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain.

Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar, yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah.

Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari. Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!!
Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar, hanya dalam waktu tiga tahun pasti sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat.

Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy (JFK) agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno.
Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II, terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar.

Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963.
Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya.
Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California).

Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.
Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya.

Mungkin suatu kebetulan yang ajaib, Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital di New York, dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962).

Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco.

Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu, yang di Indonesia dikenal sebagai “masa yang paling krusial”.

Pease mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Pada bulan Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri.

Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Sedangkan menurut pengamat sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Asvi Marwan Adam, Soekarno benar-benar ingin sumber daya alam Indonesia dikelola oleh anak bangsa sendiri.

Asvi juga menuturkan, sebuah arsip di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengungkapkan pada 15 Desember 1965 sebuah tim dipimpin oleh Chaerul Saleh di Istana Cipanas sedang membahas nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia.

Soeharto yang pro-pemodal asing, datang ke sana menumpang helikopter. Dia menyatakan kepada peserta rapat, bahwa dia dan Angkatan Darat tidak setuju rencana nasionalisasi perusahaan asing itu.

“Soeharto sangat berani saat itu, Bung Karno juga tidak pernah memerintahkan seperti itu,” kata Asvi.

Sebelum tahun 1965, seorang taipan dari Amerika Serikat menemui Soekarno. Pengusaha itu menyatakan keinginannya berinvestasi di Papua. Namun Soekarno menolak secara halus.

“Saya sepakat dan itu tawaran menarik. Tapi tidak untuk saat ini, coba tawarkan kepada generasi setelah saya,” ujar Asvi menirukan jawaban Soekarno.

Soekarno berencana modal asing baru masuk Indonesia 20 tahun lagi, setelah putra-putri Indonesia siap mengelola. Dia tidak mau perusahaan luar negeri masuk, sedangkan orang Indonesia masih memiliki pengetahuan nol tentang alam mereka sendiri. Oleh karenanya sebagai persiapan, Soekarno mengirim banyak mahasiswa belajar ke negara-negara lain.

Soekarno boleh saja membuat tembok penghalang untuk asing dan mempersiapkan calon pengelola negara.

Namun Asvi menjelaskan bahwa usaha pihak luar yang bernafsu ingin mendongkel kekuasaan Soekarno, tidak kalah kuat!

Setahun sebelumnya yaitu pada tahun 1964, seorang peneliti diberi akses untuk membuka dokumen penting Departemen Luar Negeri Pakistan dan menemukan surat dari duta besar Pakistan di Eropa.

Dalam surat per Desember 1964, diplomat itu menyampaikan informasi rahasia dari intel Belanda yang mengatakan bahwa dalam waktu dekat, Indonesia akan beralih ke Barat.

Lisa menjelaskan maksud dari informasi itu adalah akan terjadi kudeta di Indonesia oleh partai komunis.

Sebab itu, angkatan darat memiliki alasan kuat untuk menamatkan Partai Komunis Indonesia (PKI), setelah itu membuat Soekarno menjadi tahanan.

Telegram rahasia dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ke Perserikatan Bangsa-Bangsa pada April 1965 menyebut Freeport Sulphur sudah sepakat dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan puncak Erstberg di Papua.

Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan ada pertemuan para penglima tinggi dan pejabat Angkatan Darat Indonesia membahas rencana darurat itu, bila Presiden Soekarno meninggal.

Namun kelompok yang dipimpin Jenderal Soeharto tersebut ternyata bergerak lebih jauh dari rencana itu. Jenderal Suharto justru mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan.

Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi bahwa semuanya itu memang benar adanya. Maka dibuatlah PKI sebagai kambing hitam sebagai tersangka pembunuhan 7 Dewan Jenderal yang pro Sukarno melalui Gerakan 30 September yang didalangi oleh PKI, atau dikenal oleh pro-Suharto sebagai “G-30/S-PKI” dan disebut juga sebagai Gestapu (Gerakan Tiga Puluh) September oleh pro-Sukarno.

Setelah pecahnya peristiwa Gerakan 30 September 1965, keadaan negara Indonesia berubah total.

Terjadi kudeta yang telah direncanakan dengan “memelintir dan mengubah” isi Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966, yang pada akhirnya isi dari surat perintah itu disalahartikan.
Dalam Supersemar, Sukarno sebenarnya hanya memberi mandat untuk mengatasi keadaan negara yang kacau-balau kepada Suharto, bukan justru menjadikannya menjadi seorang presiden.

Dalam artikel berjudul JFK, Indonesia, CIA, and Freeport yang diterbitkan majalah Probe edisi Maret-April 1996, Lisa Pease menulis bahwa akhirnya pada awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno (yang dikenal juga sebagai 7 dewan Jenderal yang dibunuh PKI), Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan, “Apakah Freeport sudah siap untuk mengekplorasi gunung emas di Irian Barat?”

Forbes Wilson jelas kaget. Dengan jawaban dan sikap tegas Sukarno yang juga sudah tersebar di dalam dunia para elite-elite dan kartel-kartel pertambangan dan minyak dunia, Wilson tidak percaya mendengar pertanyaan itu.

Dia berpikir Freeport masih akan sulit mendapatkan izin karena Soekarno masih berkuasa. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?
Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Oleh karenanya, usaha Freeport untuk masuk ke Indonesia akan semakin mudah.

Beberapa elit Indonesia yang dimaksud pada era itu diantaranya adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan pada saat itu Ibnu Soetowo .

Namun pada saat penandatanganan kontrak dengan Freeport, juga dilakukan oleh menteri Pertambangan Indonesia selanjutnya yaitu Ir. Slamet Bratanata.

Selain itu juga ada seorang bisnisman sekaligus “makelar” untuk perusahaan-perusahaan asing yaitu Julius Tahija.

Julius Tahija berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport.

Dalam bisnis ia menjadi pelopor dalam keterlibatan pengusaha lokal dalam perusahaan multinasional lainnya, antara lain terlibat dalam PT Faroka, PT Procter & Gambler (Inggris), PT Filma, PT Samudera Indonesia, Bank Niaga, termasuk Freeport Indonesia.
Sedangkan Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat, karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebagai bukti adalah dilakukannya pengesahan Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) pada 1967 yaitu UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan oleh Rockefeller seorang Bilderberger dan disahkan tahun 1967.

Maka, Freeport menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto.
Bukan saja menjadi lembek, bahkan sejak detik itu, akhirnya Indonesia menjadi negara yang sangat tergantung terhadap Amerika, hingga kini, dan mungkin untuk selamanya.

Bahkan beberapa bulan sebelumnya yaitu pada 28 Februari 1967 secara resmi pabrik BATA yang terletak di Ibukota Indonesia (Kalibata) juga diserahkan kembali oleh Pemerintah Indonesia kepada pemiliknya. Penandatanganan perjanjian pengembalian pabrik Bata dilakukan pada bulan sesudahnya, yaitu tanggal 3 Maret 1967.

Padahal pada masa sebelumnya sejak tahun 1965 pabrik Bata ini telah dikuasai pemerintah. Jadi untuk apa dilakukan pengembalian kembali? Dibayar berapa hak untuk mendapatkan atau memiliki pabrik Bata itu kembali? Kemana uang itu? Jika saja ini terjadi pada masa sekarang, pasti sudah heboh akibat pemberitaan tentang hal ini.

Namun ini baru langkah-langkah awal dan masih merupakan sesuatu yang kecil dari sepak terjang Suharto yang masih akan menguasai Indonesia untuk puluhan tahun mendatang yang kini diusulkan oleh segelintir orang agar ia mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional. Penandatangan penyerahan kembali pabrik Bata dilakukan oleh Drs. Barli Halim, pihak Indonesia dan Mr. Bata ESG Bach.

Masih ditahun yang sama 1967, perjanjian pertama antara Indonesia dan Freeport untuk mengeksploitasi tambang di Irian Jaya juga dilakukan, tepatnya pada tanggal 7 April perjanjian itu ditandatangani.
Akhirnya, perusahaan Freeport Sulphur of Delaware, AS pada Jumat 7 April 1967 menandatangani kontrak kerja dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan tembaga di Papua Barat. Freeport diperkirakan menginvestasikan 75 hingga 100 juta dolar AS.

Penandatanganan bertempat di Departemen Pertambangan, dengan Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Pertambangan Ir. Slamet Bratanata dan Freeport oleh Robert C. Hills (Presiden Freeport Shulpur) dan Forbes K. Wilson (Presiden Freeport Indonesia), anak perusahan yang dibuat untuk kepentingan ini. Disaksikan pula oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Marshall Green.
Freeport mendapat hak konsensi lahan penambangan seluas 10.908 hektar untuk kontrak selama 30 tahun terhitung sejak kegiatan komersial pertama dilakukan. Pada Desember 1972 pengapalan 10.000 ton tembaga pertama kali dilakukan dengan tujuan Jepang.

Dari penandatanganan kontrak inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan Undang-Undang Pertambangan No. 11 Tahun 1967 yang disahkan pada Desember 1967.

Inilah kali pertama kontrak pertambangan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Suharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah merugikan Indonesia.

Setelah itu juga ikut ditandatangani kontrak eksplorasi nikel di pulau Irian Barat dan di area Waigee Sentani oleh PT Pacific Nickel Indonesia dan Kementerian Pertambangan Republik Indonesia.

Perjanjian dilakukan oleh E. OF Veelen (Koninklijke Hoogovens), Soemantri Brodjonegoro (yaitu Menteri Pertambangan RI selanjutnya yang menggantikan Ir. Slamet Bratanata) dan RD Ryan (U.S. Steel).

Pacific Nickel Indonesia adalah perusahaan yang didirikan oleh Dutch Koninklijke Hoogovens, Wm. H. MÜLLER, US Steel, Lawsont Mining dan Sherritt Gordon Mines Ltd.

Namun menurut penulis, perjanjian-perjanjian pertambangan di Indonesia banyak keganjilan.

Contohnya seperti tiga perjanjian diatas saja dulu dari puluhan atau mungkin ratusan perjanjian dibidang pertambangan. Terlihat dari ketiga perjanjian diatas sangat meragukan kebenarannya.

Pertama, perjanjian pengembalian pabrik Bata, mengapa dikembalikan? apakah rakyat Indonesia tak bisa membuat seperangkat sendal atau sepatu? sangat jelas ada konspirasi busuk yang telah dimainkan disini.
Kedua, perjanjian penambangan tembaga oleh Freeport, apakah mereka benar-benar menambang tembaga?

Saya sangat yakin mereka menambang emas, namun diperjanjiannya tertulis menambang tembaga.

Tapi karena pada masa itu tak ada media, bagaimana jika semua ahli geologi Indonesia dan para pejabat yang terkait di dalamnya diberi setumpuk uang? Walau tak selalu, tapi didalam pertambangan tembaga kadang memang ada unsur emasnya.

Perjanjian ketiga adalah perjanjian penambangan nikel oleh Pasific Nickel, untuk kedua kalinya, apakah mereka benar-benar menambang nikel?

Saya sangat yakin mereka menambang perak, namun diperjanjiannya tertulis menambang nikel.

Begitulah seterusnya, semua perjanjian-perjanjian pengeksplotasian tambang-tambang di bumi Indonesia dilakukan secara tak wajar, tak adil dan terus-menerus serta perjanjian-perjanjian tersebut akan berlaku selama puluhan bahkan ratusan tahun kedepan.

Kekayaan alam Indonesia pun digadaikan, kekayaan Indonesia pun terjual, dirampok, dibawa kabur kenegara-negara pro-zionis, itupun tanpa menyejahterakan rakyat Indonesia selama puluhan tahun.

“Saya melihat seperti balas budi Indonesia ke Amerika Serikat karena telah membantu menghancurkan komunis, yang konon bantuannya itu dengan senjata,” tutur pengamat sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Asvi Marwan Adam.

Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.

Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik Jim Bob Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun.
Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A.Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setebal 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki deposit terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar didunia.

Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan untuk 45 tahun ke depan.
Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia.

Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah.

Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Tambang Grasberg (Grasberg Mine) atau Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru dimana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika.

Ini sungguh-sungguh perampokan besar yang direstui oleh pemerintah Indonesia sampai sekarang!!

Seharusnya patut dipertanyakan, mengapa kota itu bernama Tembagapura?

Apakah pada awalnya pihak Indonesia sudah “dibohongi” tentang isi perjanjian penambangan dan hanya ditemukan untuk mengeksploitasi tembaga saja?

Jika iya, perjanjian penambangan harus direvisi ulang karena mengingat perjanjian pertambangan biasanya berlaku untuk puluhan tahun kedepan!

Menurut kesaksian seorang reporter CNN yang diizinkan meliput areal tambang emas Freeport dari udara. Dengan helikopter ia meliput gunung emas tersebut yang ditahun 1990-an sudah berubah menjadi lembah yang dalam.

Semua emas, perak, dan tembaga yang ada digunung tersebut telah dibawa kabur ke Amerika, meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai-sungai dan tanah-tanah orang Papua hingga ratusan tahun kedepan.

Freeport juga merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini di era Suharto, dari sipil hingga militer.

Sejak 1967 sampai sekarang, tambang emas terbesar di dunia itu menjadi tambang pribadi mereka untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya.

Freeport McMoran sendiri telah menganggarkan dana untuk itu yang walau jumlahnya sangat besar bagi kita, namun bagi mereka terbilang kecil karena jumlah laba dari tambang itu memang sangat dahsyat. Jika Indonesia mau mandiri, sektor inilah yang harus dibereskan terlebih dahulu.

Itu pula yang menjadi salah satu sebab, siapapun yang akan menjadi presiden Indonesia kedepannya, tak akan pernah mampu untuk mengubah perjanjian ini dan keadaan ini.

Karena, jika presiden Indonesia siapapun dia, mulai berani mengutak-atik tambang-tambang para elite dunia, maka mereka akan menggunakan seluruh kekuatan politik dengan media dan militernya yang sangat kuatnya di dunia, dengan cara menggoyang kekuasaan presiden Indonesia.
Kerusuhan, adu domba, agen rahasia, mata-mata, akan disebar diseluruh pelosok negeri agar rakyat Indonesia merasa tak aman, tak puas, lalu akan meruntuhkan kepemimpinan presidennya siapapun dia.

Inilah salah satu “warisan” orde baru, new order, new world order di era kepemimpinan rezim dan diktator Suharto selama lebih dari tiga dekade.

Suharto, presiden Indonesia selama 32 tahun yang selalu tersenyum dengan julukannya “the smilling General” , presiden satu-satunya di dunia yang sudi melantik dirinya sendiri menjadi Jenderal bintang lima, namun masih banyak yang ingin menjadikannya pahlawan nasional, karena telah sukses menjual kekayaan alam dari dasar laut hingga puncak gunung, dari Sabang hingga Merauke, yaitu negeri tercinta ini, Indonesia yang besar, Indonesia Raya.
 

Monday, April 15, 2013

“Mitos” tentang Yoghurt


Baru-baru ini di Jepang, berbagai macam yoghurt, seperti “Yoghurt Laut Kaspia” dan “yoghurt aloe”, menjadi sangat popular karena memiliki keuntungan-keuntungan kesehatan yang dipromosikan secara luas. Namun Hiromi Shinya, Guru Besar Kedokteran Albert Einstein College of Medicine, yakin bahwa semua ini adalah gambaran yang salah.

Yang sering ia dengar dari orang-orang yang mengkonsumsi yoghurt adalah bahwa kondisi pencernaan mereka membaik, mereka tidak lagi mengalami konstipasi, atau pinggang mereka mengecil. Dan mereka percaya bahwa semua hasil ini berkat laktobasilus yang terdapat dalam setiap yoghurt.

Namun, kepercayaan dan keuntungan-keuntungan laktobasilus ini sejak awalnya sudah dipertanyakan. Aslinya, laktobasilus terdapat di dalam usus manusia. Bakteri ini disebut “bakteri yang bermukim dalam usus”. Tubuh manusia memiliki suatu sistem pertahanan melawan bakteri dan virus yang datang dari luar, jadi bahkan bakteri-bakteri yang biasanya baik untuk tubuh anda, seperti laktobasilus, akan diserang dan dihancurkan oleh pertahanan alami tubuh jika mereka bukan bakteri yang bermukim dalam usus.

Garis pertahanan terdepan adalah asam lambung. Saat laktobasilus dari yoghurt memasuki lambung, sebagian besar dari mereka dimatikan oleh asam lambung. Oleh sebab itulah, baru-baru ini dilakukan perbaikan dan yoghurt pun dipasarkan dengan slogan “laktobasilus yang berhasil mencapai usus Anda”.

Namun, bahkan jika bakteri itu mencapai usus, apakah memang mungkin mereka dapat bekerja sama dengan bakteri-bakteri yang bermukim dalam usus?

Alasan Hiromi Shinya mempertanyakan klaim mengenai yoghurt ini adalah karena dalam konteks klinis, karakteristik usus mereka yang mengonsumsi yoghurt setiap hari tidak pernah baik. Hiromi Shinya menduga keras bahwa bahkan jika laktobasilus di dalam yoghurt dapat mencapai usus hidup-hidup, mereka tidak mengakibatkan usus bekerja lebih baik, malah hanya mengacaukan flora usus.

Lalu, mengapa banyak orang yang merasa bahwa yoghurt efektif dalam memperbaiki kesehatan mereka? Bagi banyak orang, yoghurt seolah “menyembuhkan” konstipasi. Namun, “penyembuhan” ini sesungguhnya adalah suatu kasus diare ringan. Beginilah hal ini mungkin bekerja: Orang dewasa tidak memiliki cukup enzim yang menguraikan laktosa. Laktosa adalah gula yang terdapat di dalam produk-produk susu, tetapi laktase, yaitu enzim yang menguraikan laktosa, mulai berkurang jumlahnya selama kita tumbuh dewasa. Kalau dipikir, hal ini cukup alami karena susu adalah sesuatu yang diminum oleh balita, bukan orang dewasa. Dengan kata lain, laktase adalah enzim yang tidak diperlukan orang dewasa.

Yoghurt mengandung banyak laktosa. Oleh karenanya, pada saat Anda mengkonsumsi yoghurt, yoghurt itu tidak dapat dicerna dengan baik akibat kurangnya enzim laktase, yang kemudian berakibat pada kesulitan mencerna. Pendeknya, banyak orang yang mengalami diare ringan jika mereka mengkonsumsi yoghurt. Orang yang percaya bahwa yoghurt menghilangkan konstipasi karena menyebabkan diare tidak melihat keseluruhan gambarannya. Akibatnya, diare ringan ini, yang sesungguhnya adalah ekskresi kotoran stagnan yang selama itu terakumulasi dalam usus besar, secara keliru dianggap sebagai pengobatan terhadap konstipasi.

Kondisi usus Anda akan memburuk jika Anda mengkonsumsi yoghurt setiap hari. Hiromi Shinya dapat mengatakan hal ini dengan yakin berdasarkan hasil pengamatan klinisnya. Jika Anda mengkonsumsi yoghurt setiap hari, bau kotoran dan gas Anda akan menjadi semakin tajam. Inilah suatu indikasi bahwa lingkungan usus Anda semakin memburuk. Alasan timbulnya bau tersebut adalah karena racun tengah diproduksi di dalam usus besar. Oleh karena itu, walaupun banyak orang membicarakan efek-efek kesehatan yoghurt secara umum (dan perusahaan-perusahaan yoghurt dengan senang hati menggembar-gemborkan produk mereka), dalam kenyataannya, banyak hal menyangkut yoghurt yang tidak baik bagi tubuh Anda.

(diambil dari buku The Miracle of Enzyme oleh Hiromi Shinya MD; hal. 102-105)

Sunday, April 14, 2013

Kenapa Sih Harus Merokok?

Negara Indonesia selain terkenal dengan kekayaan alamnya juga terkenal dengan penduduknya yang hobi merokok. Bisa dikatakan hampir 80 % orang Indonesia adalah perokok sehingga tidak aneh apabila pajak terbesar negara Indonesia adalah dari rokok (setiap batang rokok pajaknya 300 rupiah).

Dibawah ini akan saya paparkan beberapa manfaat dari merokok versi yang saya kumpulkan di internet:

  • Dengan merokok tentunya kita akan menambah kekayaan negara kita dari pajak cukai tembakau (sudah dibahas di atas).

  • Dengan merokok saya akan dapat membuka lapangan kerja bagi penduduk Indonesia khususnya daerah tempat saya yang kebanyakan penduduknya menanam tembakau sebagai produksi agrarisnya. Kalau saya tidak merokok berarti saya akan membuat pabrik rokok bangkrut dan menutup lowongan pekerjaan. Bayangkan berapa banyak yang akan menganggur kalo pabrik rokok bangkrut.

  • Dengan merokok tentunya kita akan aman dari kejaran anjing karena kalau kita dikejar anjing otomatis kita akan lari dan ngos2 an. Ngos2an inilah yang akan membuat anjing kasihan dan tidak akan mengejar kita.

  • Pernahkah kita melihat di televisi atau membaca di koran ada orang yang meninggal di rumah sakit akibat merokok??? Yang ada sebelum dibawa ke rumah sakit sudah meninggal duluan.

  • Dulu saya pernah dongkol kepada pabrik rokok pada waktu kecil karena suatu alasan sehingga saya berniat untuk membakar pabrik rokok tersebut. Tapi apalah daya saya, saya masih kecil. Kemudian sekarang saya sudah dewasa niat tersebut masih ada dan akhirnya niat tersebut tidak terlaksana kemudaian saya membakar rokok sebagai gantinya.


Mungkin kalau ada saran silahkan ditambahkan.



Aturan sepertiga – Rule of Thirds


Pakem ini sudah sangat lama digunakan, bahkan sejak fotografi belum ada, yaitu di lukisan. Rule of thirds/aturan sepertiga merupakan rumus komposisi yang paling populer. Komposisi ini didapatkan dengan membagi bidang gambar dalam tiga bagian yang sama besar dan proporsional baik horizontal maupun vertikal. Dengan pembagian tersebut, terbentuklah garis-garis dan empat titik perpotongan garis tersebut. Menurut aturan ini, sebaiknya bagian foto yang paling menarik ditempatkan di salah satu titik pertemuan tersebut. Pada intinya mata kita merasa suatu lukisan / foto lebih indah apabila point of interest diletakkan di persinggungan garis vertikal & horizontal yang membagi bidang menjadi 3. Aturan ini bisa digunakan untuk jenis fotografi apa saja dan cocok untuk dicoba terutama oleh pemula sehingga subjek utama foto tidak selalu ditempatkan di tengah saja. Gampangnya : subyek utama harus kita letakkan di posisi yang dilingkari di ilustrasi di bawah ini:


Penyebab utamanya berusaha dijelaskan oleh para ahli dengan ketertarikan manusia pada deret fibonacci dan deret aritmatik lainnya. Entah bagaimana komposisi tubuh manusia banyak terkait dengan deret ini, dan hal yang dianggap artistik oleh mata manusia juga terkait dengan deret ini. Dari segala macam perumusan ini muncullah “Rule of Third”.

Apa itu “subyek utama” dalam Rule of third yang dijelaskan diatas? Subyek utama dapat berupa:
  • Bagian dari pemandangan yang menonjol, misalnya batu berwarna merah yang menonjol. Atau sapi di lapangan rumput yang hijau. Bisa juga model dalam pemotretan human interest dengan background pemandangan alam.
  • Dalam pemotretan macro ini bisa berarti juga si obyek (misalnya serangga), atau titik tengah dari bunga yang kita potret, atau mata dari serangga dalam macro super close.
  • Dalam pemotretan portrait ini bisa berarti wajah si model, atau juga mata si model.
  • dll

Kita coba lihat contoh-nya dalam foto.

Dalam contoh diatas wajah dan mata menjadi subyek utama. Oleh sebab itu diletakkan di perpotongan garis vertikal paling kiri dan horizontal paling kanan. Semua garis vertikal maupun horisontal membagi foto menjadi 3 bagian yang kurang lebih sama besar.

Pada foto macro diatas subyeknya adalah lady bug / kepik berwarna kuning. Kepik ini merupakan bagian yang paling menonjol dari seluruh bagian foto. Mata kita langsung tertarik dengan keberadaannya. Oleh sebab itulah ia diletakkan di titik persilangan di kanan bawah, sesuai dengan “aturan” rule of third.

Salah satu bentuk lain dari penggunaan rule of third adalah bagaimana kita meletakkan horizon pada pemotretan landscape. Komposisi yang sering digunakan oleh awam adalah meletakkan horizon tepat di tengah foto. Akibatnya foto cenderung kurang menarik. Rule of third mengajarkan agar kita meletakkan horizon di garis horisontal (pembagi foto menjadi 3 bagian) atas atau bawah. Pemilihan garis atas atau bawah umumnya ditentukan mana yang lebih menarik, langit atau daratannya.

Pada contoh diatas horizon diletakkan di garis pembagi 1/3 bawah (walau tidak sangat tepat disana). Hal ini dikarenakan aspek yang ingin ditonjolkan dalam foto ini adalah langit yang memiliki awan yang berlapis dan warna warni yang cemerlang. Lain halnya dengan contoh dibawah ini:

Pada contoh ini langit tidak memiliki aspek yang menonjol, biru tanpa awan. Sedangkan di bagian bawah perpaduan warna hijau kuning dan biru nampak lebih artistik. Oleh sebab itu pilihannya adalah meletakkan horizon di 1/3 bagian atas agar porsi daratan lebih besar dibandingkan langit, dengan demikian lebih mendominasi foto.

Rule of third kembali lagi hanyalah pakem / teori, ada berbagai kondisi dimana rule of third tidak sepenuhnya berlaku. Misalnya:

Pada foto ini horizon diletakkan kurang lebih di tengah foto. Siluet tanah lot yang menonjol membuat keseimbangan sedikit berubah, oleh sebab itu walau horizon terletak di tengah foto masih terasa seimbang. Selain itu meletakkan horizon di tengah menjadikan siluet lebih menonjol.

Pahami teori-nya terlebih dahulu, praktek-kan lalu coba langgar dan lihat hasilnya. Demikianlah proses pembelajarannya. Selamat berkreasi.






Friday, June 10, 2011

"EMPAT SEHAT LIMA SEMPURNA" - NO MORE!

Saya baru tahu kalau ternyata pola makanan ’4 sehat 5 sempurna’ merupakan konsep gizi yang sudah usang. Bahkan tanggal 25 Januari 2011 lalu, bertempat di Auditorium Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dan Kementerian Kesehatan RI, secara resmi mengumumkan bahwa slogan Empat Sehat Lima Sempurna sudah tidak bisa diberlakukan, karena tak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Konsep gizi usang

“Sebenarnya, pedoman Empat Sehat Lima Sempurna yang mengacu pada Basic Fourmemang sudah lama kadaluwarsa,” tutur Prof Soekirman, SKM, MPS-ID, PhD, pakar gizi dan kebijakan pangan, dalam sebuah konferensi pers bertajuk “Sehat dan Bugar Berkat Gizi Seimbang”, di Hotel Akmani, Jakarta, akhir Januari lalu.

Konsep The Basic Four Guide, yang menggolongkan makanan menjadi empat kelompok yakni sereal, daging, susu, dan sayuran, dimunculkan di Amerika pada tahun 1940-an, ketika Amerika sendiri belum lama mengenal ilmu gizi. Nyatanya, setelah konsep tersebut berjalan selama sekitar 20 tahun, pola makan Amerika justru cenderung memburuk. Konsumsi daging, serealia, tepung, lemak, minyak, gula, dan garam meningkat tajam. Sebaliknya, konsumsi sayur dan buah justru menurun. Akibatnya, kasus obesitas, penyakit gangguan metabolisme, dan degeneratif melonjak drastis. Dari kondisi tersebut, para ilmuwan mulai menyadari bahwa pedoman makan tidak hanya bermanfaat mengatasi kurang gizi, namun juga sangat berperan terhadap munculnya penyakit.

Tahun 1970-an, konsep tadi mulai direvisi. Pada prinsipnya, pemerintah Amerika menyarankan agar masyarakatnya meningkatkan konsumsi karbohidrat, mementingkan peran protein dan produk susu, serta mengurangi makanan yang berlemak, berkolesterol, bergaram, dan bergula. Pada tahun 1988, pemerintah mulai memperkenalkan kelompok makanan yang digambarkan dengan piramida (lihat gambar). Tiga tahun kemudian, United States Department of Agriculture, resmi merilis gambar piramida makanan yang diberi nama The Food Guide Pyramid. Dalam piramida tersebut, kelompok makanan yang mengandung karbohidrat diletakkan di bagian paling bawah, diikuti oleh kelompok sayur dan buah, kelompok daging, unggas, ikan, telur, dan produk susu, kemudian yang paling atas adalah kelompok lemak, minyak, dan gula. Jika diletakkan di bawah, artinya kelompok makanan tersebut dikonsumsi lebih banyak. Semakin ke atas, konsumsinya lebih sedikit.

Meskipun dipandang lebih baik, anjuran ini mengalami kontroversi. Sebagian kalangan mempertanyakan mengapa produk susu harus digambarkan secara khusus dalam piramida. Selain itu, mereka menilai pedoman tersebut tidak memiliki dasar ilmiah. Marion Nestle, dalam bukunya yang berjudul Food Politics: How The Food Industry Influences Nutrition and Health (University of California Press, 2002), bahkan mengungkapkan, kebijakan tersebut lebih disebabkan faktor politik. Di antaranya, agar komoditi dagang Amerika – terutama gandum dan produk susu – bisa memperoleh pasar lebih luas.

Rentan salah paham

Terlepas dari kontroversi tersebut, Dr Walter Willet, ilmuwan dari Harvard School of Public Health mengatakan, piramida tersebut rentan salah paham. Penggolongan komponen makanan yang hanya berdasarkan pada proporsi akan menimbulkan anggapan bahwa semua jenis karbohidrat, protein, dan produk susu itu baik, sehingga cenderung dikonsumsi secara berlebihan. Sebaliknya, semua jenis lemak dan minyak akan dikira jahat dan harus dihindari.

Faktanya, karbohidrat terdiri dari dua jenis, yaitu karbohidrat kompleks dan sederhana. Jika tidak dijelaskan secara khusus karbohidrat seperti apa yang dimaksud, Willet menilai, anjuran mengonsumsi sebanyak 6-11 porsi per hari sudah terlalu berlebihan. Padahal, semua bentuk karbohidrat sederhana seperti nasi, mi, roti, dan sejenisnya, dengan cepat melonjakkan kadar gula dalam darah dan mengakibatkan meroketnya insulin. Efeknya, insulin akan berusaha menekan dengan mengeluarkan hormon eikosanoid buruk yang berpotensi memicu peradangan sel, menurunkan sistem kekebalan, membuat darah menjadi lebih kental sehingga memicu penyempitan pembuluh darah dan perbanyakan sel-sel abnormal.

Lagipula, tidak semua makanan sumber protein layak dikonsumsi setiap hari. Sebagai contoh, daging merah memang kaya protein, namun juga mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi sehingga harus dibatasi. Sementara sumber protein lain seperti ikan, ayam, kacang-kacangan, dan biji-bijian justru lebih baik sehingga bisa dikonsumsi lebih sering.

Begitu juga dengan lemak. Lemak bersifat jenuh yang terdapat dalam minyak goreng, mentega, dan margarin, misalnya, memang tidak baik. Namun lemak yang berasal dari biji-bijian seperti kemiri, kacang mete, alpukat, serta minyak zaitun – selama tidak digoreng – merupakan sumber lemak yang bagus. Ini disebabkan mekanisme kerja dan perannya pada tubuh kita justru berlawanan dengan lemak jenuh.

Yang terakhir adalah produk susu yang dipandang istimewa karena merupakan sumber kalsium tinggi. Menurut Willet, kalsium tidak perlu digembar-gemborkan sehingga cenderung dikonsumsi berlebihan. Beberapa studi menemukan, terlalu banyak kalsium diduga justru dapat meningkatkan risiko gangguan jantung, pembuluh darah, osteoporosis, dan beberapa jenis kanker.

“Dosa” Empat Sehat Lima Sempurna

Di Indonesia, penerapan Empat Sehat Lima Sempurna – yang mengacu pada piramida Basic Four tadi – ternyata juga tidak lepas dari salah kaprah. Beberapa hal yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai berikut:

  • Susu si malaikat

Susu sering dianggap komponen yang wajib ada dalam daftar makanan sehari-hari. Simak pengalaman Wita (34 tahun), ibu rumah tangga yang berdomisili di Setiabudi, Jakarta Selatan. “Kalau belum menyajikan susu, rasanya belum afdol. Seolah-olah saya belum bisa memberikan makanan sehat buat keluarga, meskipun komponen lain yang terdapat dalam Empat Sehat sudah terpenuhi,” tuturnya.

Sementara Dahlia (31 tahun), karyawati di Semarang, lain lagi. Karena Lima Sempurna mengacu pada susu, ia menganggap susu merupakan makanan “sempurna” yang bergizi komplit sehingga bisa menggantikan peran sumber makanan lainnya. “Kalau anak-anak sedang sulit makan, selama masih mau minum susu saya sudah cukup tenang. Toh, susu juga mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lain,” dalihnya.

Prof Soekirman mengakui, slogan “Lima Sempurna” yang mengacu pada susu memang membuat banyak orang menganggap bahwa komponen makanan yang terdapat dalam Empat Sehat belum komplit jika tanpa susu. Selain itu, karena disandingkan dengan kata “sempurna” susu juga sering dijadikan jawaban atas masalah kekurangan gizi. Padahal kenyataannya, susu merupakan bahan makanan yang posisinya tidak lebih hebat dari sumber protein lain, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, polong-polongan, ikan, ayam, atau daging.

  • Melupakan proporsi makanan

Empat Sehat Lima Sempurna menyamaratakan kebutuhan gizi. Seolah-olah, asal terdiri dari makanan sumber karbohidrat, lauk pauk, sayur, dan buah, itu sudah cukup. Padahal, setiap orang memiliki kondisi tubuh dan kebutuhan gizi berbeda-beda, yang sangat dipengaruhi oleh usia, status kesehatan, dan aktivitasnya.

Kebutuhan gizi seorang pekerja fisik, misalnya, tidak sama dengan karyawan yang seharian bekerja di belakang meja. Bila pola makan mereka dipukul rata berdasarkan susunan makanan yang terdiri dari empat kelompok tadi, dan tidak mempertimbangkan porsi serta jenis zat gizinya, pola makannya itu tidak bisa dibilang sehat. Sebab, pada pekerja fisik, kalori yang terkandung dalam makanannya mungkin akan langsung habis tak bersisa saat digunakan untuk bekerja. Sementara pada si karyawan, sisa kalori yang ada akan tertimbun di dalam tubuhnya.

  • Tidak peduli kombinasi

Banyak orang memahami komponen Empat Sehat Lima Sempurna harus dikonsumsi sekaligus. Ini juga yang dilakukan oleh Litha Manaba (29 tahun), karyawan swasta yang berdomisili di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mulai sarapan hingga makan malam, ia selalu mengusahakan isi piringnya terdiri dari nasi, lauk pauk, dan sayur. “Habis makan, saya makan pisang, jeruk, atau semangka. Kalau pagi, biasanya saya tambahkan susu. Biar sumber tenaganya komplit!” jelasnya. Namun yang aneh, alih-alih merasa lebih bertenaga, setiap kali usai makan ia sering mengeluh ngantuk. “Badan juga terasa berat. Kenapa bisa begitu ya?” ia bertanya-tanya.

Menurut Andang Gunawan, ND, bahwa kita harus mengonsumsi sumber makanan secara komplit seperti yang terdapat dalam komponen Empat Sehat, itu memang betul. “Namun tidak perlu sekaligus,” tegasnya.

Alasannya, agar bisa dicerna dengan baik, konsumsi makanan sebaiknya juga disesuaikan dengan enzim yang berada pada sistem pencernaan. Ada enzim yang membutuhkan lingkungan cerna bersifat asam, ada pula yang membutuhkan lingkungan cerna bersifat basa. Apabila makanan yang kita konsumsi sama-sama bersifat asam (misalnya karbohidrat tepung dimakan bersamaan dengan protein hewani), akan terjadi proses penetralan asam-basa yang menghambat proses pencernaan. Tubuh juga akan mengerahkan energinya untuk mencerna makanan. “Inilah yang menjelaskan mengapa seusai makan tubuh justru terasa berat, bahkan mengantuk,” jelas Andang.

Selain itu, bahan makanan yang terlalu lama tinggal dalam organ pencernaan akan membusuk dan meninggalkan toksin. Thomas E. Levy, MD, dalam bukunya yang berjudulOptimal Nutrition for Optimal Health, mengungkapkan, pencernaan yang bersifat toksik cenderung mendorong peningkatan berat badan.

Ini disebabkan, usus halus menyerap lebih banyak dari yang seharusnya (leaky gut). Jika di saat yang sama, sisa-sisa makanan yang ada belum tercerna dengan sempurna, sementara pola makan yang tidak ramah pencernaan tadi terus terjadi, tubuh akan mengenali zat yang diserap usus halus tersebut sebagai benda asing. Ia akan berusaha melawan dengan mengaktifkan sistem kekebalan. Namun hal ini bukannya membuat daya tahan tubuh kita semakin kuat, melainkan sebaliknya; sel-sel meradang, dan kita lebih rentan sakit.

Slogan Baru, Gizi Seimbang

Itulah alasannya, pada tahun 1992, konferensi pangan sedunia yang berlangsung di Roma dan Geneva, yang diadakan oleh Food and Agriculture Organization (FAO), badan pangan dunia, menetapkan agar semua negara berkembang yang semula menggunakan slogan sejenis Basic Four menggantinya dengan konsep Nutrition Guide for Balance Diet.

Sesungguhnya, keputusan FAO itu sudah dilakukan dalam kebijakan Repelita V tahun 1995 sebagai Pedoman Gizi Seimbang, dan menjadi bagian dalam program perbaikan gizi. Namun karena kurangnya sosialisasi, pedoman yang baru itu hanya menjadi sekadar teori.

Meskipun terkesan terlambat, usaha memperkenalkan kembali Pedoman Gizi seimbang sebagai pengganti Empat Sehat Lima Sempurna itu tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Bagaimanapun, itikad pemerintah dalam meluncurkan (kembali) Pedoman Gizi Seimbang baru-baru ini wajib dihargai. Terlebih, konsep yang baru ini sudah mulai mengakomodasi beberapa hal penting.

Menurut Prof Soekirman, berbeda dengan Empat Sehat Lima Sempurna yang menyamaratakan kebutuhan gizi semua orang, Gizi Seimbang percaya bahwa setiap golongan usia, jenis kelamin, kesehatan, dan aktivitas fisik memerlukan asupan gizi yang berbeda-beda. Agar lebih mudah dipahami, konsepnya digambarkan menjadi “piramida” berbentuk tumpeng beserta nampan, yang disebut Tumpeng Gizi Seimbang.

Secara umum, Tumpeng Gizi Seimbang terdiri dari beberapa potongan tumpeng: satu potongan besar berisi sumber karbohidrat, dua potongan sedang berisi sayuran dan buah-buahan, dua potongan kecil berisi sumber protein nabati dan hewani, serta potongan terkecil di bagian puncak, berisi minyak, gula, dan garam. Besarnya potongan ini menunjukkan porsi makanan yang harus dikonsumsi setiap hari.

Beda dengan slogan sebelumnya

Jika diperhatikan lebih mendalam, pedoman Gizi Seimbang juga memiliki beberapa perbedaan dengan Empat Sehat Lima Sempurna, yaitu:

  • Air putih menjadi bagian dari komponen gizi.

Air putih dimasukkan dalam komponen Tumpeng Gizi Seimbang, dan ditempatkan di bawah potongan kelompok sumber karbohidrat. Artinya, air putih kini dipandang sebagai zat gizi esensial yang wajib terpenuhi dan menempati posisi terbesar dalam asupan gizi. Ini disebabkan, air berperan penting dalam proses metabolisme. Sebaik apapun pola makan kita, jika tubuh kekurangan air, metabolisme tubuh akan terganggu.

  • Susu bukan lagi “penyempurna”

Dalam Tumpeng Gizi Seimbang, susu ditempatkan dalam kelompok sumber protein hewani lainnya. Hal ini untuk menegaskan, bahwa susu bukan makanan sempurna seperti salah kaprah yang terjadi selama ini. Posisinya bisa diganti oleh sumber protein lain, baik yang berupa protein nabati ataupun hewani.

  • Hanya bersifat umum

Prinsip Gizi Seimbang didasarkan pada kebutuhan zat gizi yang berbeda menurut kelompok umur, status kesehatan, dan jenis aktivitas, maka bagi ibu hamil, menyusui, bayi dan balita, remaja, dewasa, dan usia lanjut. Oleh sebab itu, jenis dan proporsi makanan yang terdapat dalam Tumpeng Gizi Seimbang tadi hanya bersifat umum. Penerapannya, tentu saja perlu disesuaikan lagi dengan kondisi kita masing-masing.

Slogan kosong?

Sebagian kalangan menilai, pedoman umum Gizi Seimbang justru lebih rumit untuk dilaksanakan. “Bikin bingung! Apalagi, program ini tidak diimbangi dengan arahan bagaimana cara menyesuaikannya dengan kondisi kita masing-masing. Berbeda dengan Empat Sehat Lima Sempurna yang jelas-jelas mengatakan kita harus makan sepiring nasi, lauk, sayur, dan buah,” keluh Annida (37 tahun), ibu rumah tangga di Bintaro, Tangerang.

Keluhan Annida memang beralasan meski tidak sepenuhnya benar. Sebetulnya pedoman Gizi Seimbang bukannya lebih “rumit”, tapi lebih dibuat lebih detail. Simbol Tumpeng Gizi Seimbang yang diletakkan dalam sebuah baki juga berisi gambar beberapa cabang olahraga, orang sedang mencuci tangan, dan timbangan. Artinya, yang dimaksud “seimbang” tidak hanya berkutat pada soal makanan. Makanan yang dikonsumsi juga harus diseimbangkan dengan aktivitas fisik, menjaga kebersihan, serta memantau berat badan.

Sejauh ini, memang begitulah temuan para ahli gizi tentang kenyataan cara menuju hidup sehat. Konsumsi makanan yang seimbang dengan aktivitas fisik, akan membuat metabolisme berjalan lebih efektif. Kalori yang masuk tidak tertimbun begitu saja dan menyebabkan obesitas. Dengan menjaga kebersihan, setidaknya kita sudah berupaya mencegah datangnya penyakit. Memantau berat badan membuat kita mengenali sinyal baik atau tidaknya status gizi. Karena, terlalu kurus atau terlalu gemuk sama-sama menandakan gizi kita belum seimbang.

Terlepas dari kurangnya sosialisasi, namanya juga pedoman. Meskipun disusun sesempurna mungkin, harap maklum jika masih jauh dari harapan semua orang. Semoga, ketidakpuasan itu memacu kita untuk tidak berhenti mengenali tubuh sendiri, sekaligus terus belajar mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. (big thanks to Nyonya Kintha)

Sunday, January 09, 2011

EFEK SELECTIVE COLOR DENGAN PHOTOSHOP

Pertama-tama, apa itu selective color? Secara sederhana, efek selective color seperti gambar di samping. Semua tampak hitam putih kecuali foto saya sendiri. Dalam pengertian luas, selective color merupakan efek untuk mengubah bagian foto sesuai keinginan kita. Biasanya efek ini digunakan untuk memperkuat dan menonjolkan obyek utama sehingga terlihat lebih dominan.

Baiklah, berikut langkah-langkahnya (disini saya gunakan PS2, untuk PS4 tidak jauh berbeda):

1. Buka gambar yang akan diproses dengan Photoshop; ingat, gambar haruslah yang berwarna.

2. Tambahkan adjustment layer dengan cara klik icon Adjustment Layer (lokasi ada di pojok kanan bawah), lalu pilih channel Mixer.

3. Buat seluruh gambar menjadi Grayscale dengan menandai Monochrome, sehingga Output Channel menjadi Gray saja. Atur Source Channel (Red, Green, Blue) hingga gambar nampak sesuai, lalu klik OK. Foto anda akan berubah jadi hitam putih.

4. Perlu diingat bahwa Channel Mixer menggunakan system masking, warna putih pada masking berarti dipilih, sedangkan warna hitam pada masking berarti tidak terpilih. Untuk menonjolkan warna asli sebagian gambar, warnai masking dengan warna hitam. Caranya, pilih foreground hitam dengan menekan X di keyboard anda.

5. Aktifkan brush, tekan B di keyboard anda. Lalu mulailah sapukan brush di area yang ingin dikembalikan warnanya sehalus mungkin, sesuai yang anda inginkan. Agar sapuan brush anda tidak luber kemana-mana, perbesar foto atau ubah ukuran brush. Proses mengembalikan warna ini memang paling lama dan membutuhkan kesabaran. Untuk melihat masking yang anda buat, tekan alt + layer mask. Apabila ada ruang kosong yang belum tersapu oleh brush warna hitam tadi, anda bisa meratakan dengan tool brush pada tampilan masking ini. Untuk kembali pada tampilan awal, tekan alt + layer mask.

6. Agar gambar terlihat lebih alami, turunkan opacity sesuai keinginan anda.

Setelah selesai simpan hasil akhirnya, dan ini dia hasil akhir yang saya buat. Selamat mencoba!

Saturday, January 08, 2011

PACITAN : KOTA 1001 GOA

Perjalanan saya kali ini menyusuri sebuah kota di pesisir selatan propinsi Jawa Timur, tempat kelahiran Presiden SBY dan juga kota tempat artis kontroversial Jupe hendak mengadu nasib dengan mencalonkan diri sebagai bupati. Ya, itulah Pacitan, yang terkenal dengan sebutan Kota 1001 Goa. Mengapa? Lanjut baca sampai selesai ya, anda akan menyadari bahwa Pacitan bukan saja memiliki goa-goa yang indah namun juga pantai-pantai yang wah… Penasaran kan?

Selasa, 28 Desember 2010

Jakarta – Solo

Setelah lelah Menerjang Citarik, timbul kenekadan di benak saya: “liburan akhir tahun kemana enaknya ya?”. Pikiran nekad tersebut seringkali hinggap di benak saya yang ujung-ujungnya berakhir dengan petualangan murah meriah dan sendiri a.k.a single-heavenly-cheap-backpacking, (translate-nya maksa yaa, hehe…). Saya tidak berharap terlalu banyak ada yang mau ikut berpetualang dengan saya kali ini, mengingat sudah di penghujung tahun yang biasanya waktu dihabiskan bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Lalu, kok saya memilih berpetualang? Yah, mungkin perbedaan konsep; bagi saya, ‘keluarga’ lebih ke pengertian luas –siapapun yang saya temui dalam perjalanan kehidupan saya dan yang mau menerima saya seperti saya menerima mereka, itulah definisi ‘keluarga’ secara luas bagi saya. Bukankah kita semua memiliki ikatan kekerabatan karena berasal dari keturunan yang sama, yaitu Adam & Eve? Atau adakah yang berasal dari Adam & Steve? Hehehe… Kok jadi membahas filosofi hidup ya? Blog yang aneh…

Menuju ke Terminal Lebak Bulus diiringi hujan deras, ditambah satu-satunya bus tujuan Pacitan (PO. Aneka Jaya) hanya berangkat jam 11 siang, maka mau tidak mau saya harus nyambung-nyambung. Pilihan tujuan Yogyakarta lebih baik, namun semua bus jurusan Yogyakarta sudah berangkat, secara saya tiba di Lebak Bulus jam 6 sore. Hufff… Setelah kontak sana-sini dengan supir-supir bus yang saya kenal, diberikanlah saya nomer agen bus PO. Giri Indah tujuan Wonogiri, yang harus saya sesali belakangan karena tiga alasan; pertama, hingga jam 11 malam bus tersebut hanya muter-muter Jakarta untuk cari penumpang; kedua, baru sejenak meninggalkan Jakarta langsung mogok (apa gak ada prestart check ya?); ketiga dan yang paling saya sesali, dioper ke bus lain yang sama ‘buruk’nya dan diturunkan di Solo (padahal saya bayar sampai ke Wonogiri). Sial! Maaf jika ada yang tersinggung, tapi lain kali saya tidak akan pernah naik bus PO Giri Indah, cukup kali itu saja!

Rabu, 29 Desember 2010 Solo - Pacitan

Oke, cukup curhatnya. Setibanya di Terminal Tirtonadi Solo jam 1 siang, dengan makan seadanya saya langsung menaiki bus PO Aneka Jaya tujuan Pacitan yang berangkat setiap setengah jam. Saya sempat panik sendiri karena sang kenek berteriak dengan nyaring dan agak fals “Batu.. Batu .. Batu”. What? Batu bukannya di dekat Malang sana? Bener gak sih? Saya baca kembali tulisan di bagian depan bus untuk meyakinkan bahwa bus yang saya tumpangi benar –Solo-Wonogiri-Batu-Pacitan. Ora urus lah, yang penting nyampe Pacitan. Perjalanan ditempuh sekitar 4 jam melewati beberapa kota, Sukoharjo, Wonogiri, dan Baturetno; aha, terjawab sudah gundah gulana di hati saya, ternyata Batu yang dimaksud sang kenek ialah Baturetno, bukan Batu di sekitar Malang sana. Woalaahhh… (maklum, nilai geografi dulu anjlok, hehehe…)

Dengan ongkos 20ribu rupiah, tibalah saya di Pacitan sekitar jam 6.30 petang. Ditemani gerimis, pilihan pertama saya yaitu bertanya ke kasir di Indomaret yang terletak pas di depan terminal. Bener-bener tanpa perencanaan! Hotel terdekat yang disarankan si mbak yaitu Hotel Permata (08123437453/0357-883306); berbekal info itu dan menumpangi becak meluncurlah saya ke sana. Wah, ini sih hotel menengah ke atas. Melanggar butir pertama sumpah backpacker: Penginapan harus di bawah 100ribu! Sang abang becak menyarankan saya ke hotel di seberangnya, Hotel Minang (085229940111/0357-881939). Harga penginapan bervariasi, mulai dari 50ribu (kipas angin), 75ribu (plus TV), 115ribu (plus AC); semuanya kamar mandi di dalam plus sarapan pagi. Saya memilih yang 75ribu karena yang 50ribu sudah penuh.

Setelah mandi, segera saya menuju ke dealer Suzuki yang terletak di seberang jalan hotel tempat saya menginap. Untuk apa? Ya, tidak lain dan tidak bukan, nonton bareng final AFF antara Indonesia vs Malaysia bersama warga setempat. Walaupun Indonesia kalah, namun saya optimis ini langkah hebat yang dilakukan oleh putra-putra terbaik negeri ini untuk berjuang dan melangkah lebih maju. Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku, Ku yakin hari ini pasti menang!

Kamis, 30 Desember 2010 Pantai Teleng Ria – Goa Gong – Pantai Klayar – Pantai Waru Karung – Pantai Srau

Pagi harinya, saya langsung berjalan menyusuri kota kecil Pacitan. Mampir sebentar di ATM terdekat (sekedar info, di Pacitan hanya ada 2 bank yang ber-ATM, BNI dan BRI), dan dengan menumpang andong alias dokar tujuan pertama saya yaitu Pantai Teleng Ria yang terletak 3 km dari terminal Pacitan. Seingat saya terakhir kali naik andong sewaktu masih duduk di bangku kelas 1 SD di Bulupayung sana. Jadi teringat nuansa pedesaan… Tarif masuk di Pantai Teleng Ria (dan semua pantai-pantai lainnya di Pacitan sama) yaitu 3ribu rupiah. Wah, pantai yang indah; hamparan pasir putih yang landai sepanjang 300 meter membuat saya betah berlama-lama di sana, tentunya sambil jepret sana-sini, dan inilah hasilnya.

Puas sesi jepretnya, saya menghampiri sebuah toko yang menjual oleh-oleh khas Pacitan. Walaupun saya hanya membeli sebuah topi berpinggiran lebar, namun saya betah berlama-lama di toko tersebut; tempat yang adem untuk badan saya dan pemandangan yang “adem” buat mata saya, karena anak sang pemilik toko bener-bener aduhai, hahahaa… (maap, fotonya untuk konsumsi pribadi yaa…)

Cukup sudah ber-adem-adem ria. Rencananya, saya akan kembali menuju ke terminal untuk mencari ojek yang mau mengantarkan saya berkeliling mengunjungi tempat-tempat wisata di Pacitan. Sekedar info, tempat-tempat wisata di Pacitan sungguh sangat sulit dijangkau, karena tidak ada kendaraan umum yang langsung menuju ke sana. Alternatif pilihannya yaitu sewa mobil atau ojek (seperti yang saya lakukan). Lalu entah mengapa, langkah kaki saya berbelok menuju ke satu-satunya penginapan yang ada di pantai tersebut. Dalam hati saya berkata, pasti harganya lebih mahal karena di pinggir pantai. Namun saya keliru! Happy Bay Beach Bungalow (0357-881474) bener-bener murah; untuk harga per kamar dikenai biaya 75ribu sedangkan bungalow 85ribu, semuanya tanpa TV, AC, dan sarapan. Bagi saya cukuplah! Tanpa berlama-lama, segera saya bayar harga sewa bungalow (karena yang kamar sudah penuh). Ternyata tindakan saya tepat, karena selang beberapa saat kemudian datang tamu-tamu yang hendak menginap di sana namun ditolak karena sudah penuh. Alhamdulilah…

Di penginapan ini juga menyediakan aneka makanan dengan harga yang bener-bener pas di kantong dan dijamin pas di lidah. Selain itu, mereka juga menyewakan motor yang dibanderol seharga 50ribu per hari. Segera saya menyewa motor yang ada dan meluncur ke Hotel Minang untuk mengambil barang bawaan saya. Eits, mata saya menangkap tulisan Dinas Pariwisata Pacitan yang terletak di seberang jalan masuk menuju ke Pantai Teleng Ria. Sangat disarankan bagi anda untuk mendatangi kantor dinas pariwisata di Pacitan (dan tentu saja di daerah manapun anda berkunjung) karena banyak info-info menarik seputar wisata setempat yang diberikan. Malah saya dibekali dengan 2 keping CD; satu berisi film dokumenter Pacitan dan satunya lagi tentang wisata di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia, plus brosur menarik tentang wisata di Pacitan.

Dengan biaya 100ribu, harga untuk sewa motor plus si mas membonceng saya ke tempat-tempat wisata yang saya nikmati di Pacitan, tujuan pertama saya yaitu Goa Gong yang terletak 30 kilometer arah selatan Pacitan. Jalan yang dilalui bener-bener melelahkan badan karena berkelok-kelok, namun terbayar dengan keindahan Goa Gong –stalagtit dan stalagmit yang menghiasi bagian dalam keindahan goa yang dinominasikan sebagai goa terindah se Asia Tenggara sungguh indah. Semakin dalam menuruni puluhan anak tangga benar-benar membuat saya semakin mengagumi karya Tuhan yang sungguh sangat menakjubkan. Goa-goa lainnya yang ada di Pacitan antara lain Goa Tabuhan, Goa Putri, Goa Pentung, Goa Somopuro, Goa Papringan, Goa Kambil, dan Goa Giritundo. Namun, saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengunjungi kesemuanya dikarenakan cuaca sudah sedikit mendung dan saya tidak mau kehilangan waktu untuk menikmati keindahan pantai-pantai yang ada di Pacitan.

Selepas dari Goa Gong, perjalanan dengan Yamaha Mio dilanjutkan menuju ke Pantai Klayar yang terletak 5 km dari Goa Gong. Dan, kembali decak kagum plus senyum lebar menghiasi wajah saya. Bagaimana tidak, pantai landai dengan ombak yang dahsyat membuat Pantai Klayar yang terletak di cekungan teluk kecil terlihat benar-benar menakjubkan! Di sini, anda bisa mengambil foto bukan hanya dari sisi bawah tapi juga bisa menaiki tebing di sebelah kanan pantai tersebut. Dan di ujung tebing tersebut, satu lagi pemandangan yang saya tidak temui di pantai-pantai lainnya yang pernah saya nikmati yaitu tebing terjal yang langsung berbatasan dengan laut, yang selama ini setahu saya banyak terdapat di pantai-pantai Australia. Benar-benar dahsyat!

Setelah menghapus dahaga dengan fresh-coconut-water, perjalanan dilanjutkan menuju ke Pantai Waru Karung; pantai ini merupakan pantai nelayan, terlihat di sepanjang sisinya deretan perahu nelayan yang parkir menunggu waktu berlayar. Pasir di sini tidak seperti pasir di pantai-pantai lainnya yang serba putih; di sini pasirnya berwarna hitam, mungkin itulah salah satu keunikan Pantai Waru Karung.

Tidak berlama-lama, kembali saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Srau yang terletak 10 km dari Pacitan. Pantai Srau mirip dengan Pantai Klayar –pantai landai dengan hamparan pasir putih di cekungan sebuah teluk kecil, deburan ombak yang hebat dan deretan tebing di sisi kanannya. Terlihat juga aktifitas surfing dilakukan di sini, mengingat ombak yang sangat pas untuk menyalurkan libido surfing. Walaupun Pantai Srau belum dieksploitasi besar-besaran seperti Pantai Klayar, namun di situlah kenikmatan memandangi alam ciptaan Tuhan yang belum terjamah oleh tangan manusia (namun sudah terjamah oleh tangan Pemda setempat, terbukti dengan adanya pos retribusi sesaat sebelum memasuki area Pantai Srau). Di Pacitan, pantai-pantai yang memiliki ombak khas yang sangat tepat untuk ber-surfing yaitu Pantai Klayar, Pantai Srau dan Pantai Teleng Ria. Saya sangat menyarankan jika anda seorang penikmat olahraga air surfing, pantai-pantai tersebut wajib anda taklukkan dan dijamin anda akan puas sepuas-puasnya. Sungguh!

Selesai sudah perjalanan saya mengitari objek wisata khas Pacitan. Ingin hati berlama-lama sampai tahun baru di sana, namun sesampainya di hotel, seorang teman menghubungi saya mengajak berpetualang ke Yogyakarta dan Solo. Wah, ternyata masih ada yang sepaham dengan saya dalam menikmati hidup dan bertemu anggota “keluarga” lainnya. Baiklah, brother Laode & brother Uus!

Jumat, 31 Desember 2010 Pacitan (waktunya bertemu Ibu Muslimah) – Yogyakarta

Ibu Mus (lengkapnya Ibu Muslimah), pengurus Guest House tempat saya bekerja, sudah sekitar 6 tahun saya mengenalnya merupakan sosok wanita yang sabar, rajin dan taat beragama. Ibu Mus tahu mana pakaian saya dan memisahkannya bila sudah rapi; kamar dan tempat tidur yang saya tempati juga paling bersih dibuatnya. Walaupun nasi goreng yang dibuatnya sangat pedes di lidah saya, tapi kebaikannya membuat rasa pedas tersebut berangsur-angsur hilang, hallaaahhh… Berlebihan ya? Tapi itulah beliau, lepas dari kekurangannya yang tak seberapa dibandingkan dengan kebaikannya. Agustus 2010 lalu, Ibu Mus pamitan untuk kembali ke kampung halamannya di Pacitan.

Dan di pagi yang cerah di hari terakhir di tahun 2010, perjalanan saya khususkan untuk mengunjungi beliau di rumahnya. Malam sebelumnya saat saya menanyakan alamat rumahnya, Ibu Mus malah membalas SMS saya begini: “aku gak percaya kamu datang jem, kamu ngapusin (bohongin) aku ya? gak salah kamu tahun baruan di sini?”. Tapi tetap diberinya alamat rumah beliau. Dan setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dan bertanya sana-sini, tibalah saya di depan rumah beliau. Ibu Mus langsung berlari menyambut saya sambil berteriak, “wah, beneran kamu datang jem, tak kirain bohongan, tau begitu aku masakin buat kamu”. ”Yah, Ibu”, jawab saya, “kan sudah saya bilang kalo saya mau main ke rumah Ibu, tapi Ibu sih gak percaya”. Jadilah sepanjang pagi hingga mendekati jam 12 siang kami bercengkerama ngobrolin semua yang bisa kami obrolin, juga berjalan berkeliling di sekitar rumah beliau yang sungguh sangat nyaman, hampir-hampir membuat saya tergoda untuk berlama-lama di sana jika tidak mengingat bahwa sore harinya saya akan menuju ke Yogyakarta.

Tepat jam 4 sore, travel Purwo Widodo (0357-883658) membawa saya dan tujuh penumpang lainnya berangkat menuju ke Yogyakarta. Dengan kendaraan Colt berfasilitas AC serta snack yang disediakan di pertengahan jalan, membuat tarif yang dikenakan cukup standar, 40ribu per orang; itupun sudah termasuk antar ke tempat tujuan.

Liburan yang menyenangkan. Walaupun sesaat namun kunjungan saya ke Pacitan sungguh membuat hati dan pikiran saya nyaman serasa di recharge untuk siap menghadapi 2011. Dan semoga kedatangan saya ke Pacitan juga bisa membawa berkah dan kedamaian bagi “keluarga” di sana. Terima kasih Tuhan untuk kesempatan yang Engkau berikan bagiku menikmati karya ciptaan-Mu yang sungguh sangat menakjubkan dan bertemu dengan orang-orang yang spesial di Pacitan, Kota 1001 Goa.